Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 November 2019

Pangeran Impian Putri Hayalan

Karya : Cherry Alaric


            Hidup di negeri dogeng adalah impian setiap orang apa lagi jika sejak kecil selalu mendengar kisah – kisah dogeng. Dimana di negeri itu banyak hal – hal yang mustahil terjadi, ada banyak keajaiban. Binatang bisa bicara, kuda terbang, ada Pangeran berkuda putih, tuan Putri yang cantik, kisah yang sempurna yang hanya ada di negeri dongeng menurut beberapa orang. Namun, tidak untuk gadis yang kini menginjak usia 20 tahun baginya cerita dan negeri dongeng suatu hal yang nyata. Gadis yang masih duduk di bangku kuliah ini yang juga berprofesi sebagai penyiar radio ini percaya kalau suatu saat dia akan mendapatkan seorang Pengeran yang selalu ada di dalam dunia hayalannya, dia aneh tapi bukan hanya dia mungkin ada orang lain yang seaneh dia.
            Gadis yang biasa di sapa Putri Asaufa ini bahkan tak jarang berprilaku bak Putri kerajaan  dari negeri dongeng. Sikapnya yang lembut, bicaranya yang sopan, bertingkha anggun, kata – kata yang bijak saat menyelesaikan masalah dia benar – benar mencerminkan seorang Putri Raja. Bahkan para pengemarnya di radio sangat suka curhat pada Putri Asaufa, mereka semua rata – rata senang mendengar cara Putri Asaufa bicara dan nasehat yang ia sarankan.
            Walaupun ia bukan keturunan asli kerajaan dan bukan berasal dari keluarga yang kaya raya, tapi Putri Asaufa bisa beretika dengan baik.
            “Tuan Putri Asaufa” mendengar suara itu Putri Asaufa langsung menoleh keasal suara dan menebarkan senyumnya lagi.
            “hal apa yang membuat anda melamun tuan Putri?” tanyak suara itu lagi namun lagi -  lagi Putri Asaufa hanya menebarkan senyumnya.
            “Pangeran Edga?” sambung suara itu lagi.
            “hm, Pengeran Edga aku tidak bisa menghilangkan bayangannya dari ingatan ku”
        “uff ayolah malam ini aku menginap di rumah mu bukan ingin mendengar cerita Pengeran Edgamu itu” kata gadis yang sering disapa Rena itu sambil membaringkan tubuhnya di samping sahabatnya Putri Asaufa.
            “tapi Pangeran Edga itu nyata” kata Putri Asaufa ikut berbaring.

~Ooo~

            Sebuah tempat yang sangat indah dimana mereka selalu bertemu dan mengenal satu dengan yang lain. Sebuah hutan yang di penuhi dengan aneka tumbuhan – tumbuhan indah, mungkin jika kita melihat tempat ini kita akan berpikir kalau kita sedang ada di Wonderland atau Neverland tempat para peri dan Patarpan berada.
            Dimana tempat itu sangat indah dan penuh dengan keajaiban tapi sangat berbahaya, Neverland Paterpan dan Pink atau Tingkelbell selalu harus bertarung dengan bajak laut si Kapten Hook untuk menjaga wilayah mereka dan Wendy si manusia cantik yang datang ke Neverland bersama saudara – saudaranya.
            Namun, tempat Pangeran Edga dan Putri Asaufa bertemu bukan lah tempat sebahaya itu, tempat ini sepi tidak ada satu pun terlihat makhluk lain yang berbetuk manusia seperti mereka. Disini hanya terdengar suara kicauan burung yang merdua atau suara binatang – bintang lain yang lucu dan tidak berbahaya, di tempat ini juga ada sepasang Vegasus dan sepasang Unicorn yang dianggap hanya sebagai makhluk mitologi, juga ada kuda putih yang biasa di tunggangi sang Pengeran.
            Hari itu Putri Asaufa datang kehutan yang sepi itu menulusuri hutan di temani sang unicorn, yang nampak celinggak – celingguk tengah mencari Pangeran Edga mungkin. Alunan suara harmonica terdengar merdu di tengah hutan, kaki Putri Asaufa terus melangkah hingga bayangan sosok laki yang tengah bersandar di pohon membuat ia tersenyum. Putri Asaufa terus mendekat menatap lekat pemuda yang tengah memejamkan matanya itu.
            “anda lama Tuan Putri” tutur pemuda yang masih menutup matanya itu.
            “maafkan saya Pangeran” ucap Putri Asaufa dan ikut duduk di sampingnya.
          Pemuda yang di panggil Pangeran itu tidak mengatakan apa pun ia hanya diam dan kembali memejamkan matanya.
         “selain harmonica, buku apa yang di tangan anda Pangeran?” tanyak Putri Asaufa yang di selimuti rasa penasarannya.
            “Peterpan, kamu ingin membacanya?” tawar sang Pangeran menyodorkan buku itu pada Putri Asaufa.
            “tidak, aku ingin Pagerena Edga membawa ku jalan – jalan dengan kuda itu” kata Putri Asaufa sambil tersenyum manis.
            Pangeran Edga tidak menjawab apapun permintaan Putri Asaufa, tapi setidaknya dengan ia tersenyum dan berdiri tegap bisa di simpulkan kalau ia bersedia mengabulkan permintaan sang Tuan Putri.
            “terimakasih” ucap Putri Asaufa dihiasi senyum manisnya.
           Dengan pelan kuda putih Pangeran Edga berjalan membawa mereka berdua menggelilingi hutan indah itu. Sepanjang hutan yang mereka telusuri semua binatang berdiri menatap mereka seakan tersenyum bahagia melihat Pangeran dan Putri itu.
            “Pangeran” panggil Putri Asaufa, ketika kuda yang mereka tunggangi berhenti disebuah sungai yang di suguhi pemandangan air terjun.
            “ya” sahut Pangeran Edga lembut.
           “mereka tidak percaya kalau Pengeran itu ada” kata Putri Asaufa, Pangeran Edga menarik sudut bibirnya dan membentuk sebuah senyum yang manis.
            “apa orang yang ada disekeliling Pangeran percaya aku ada?” tanyak Putri Asaufa lagi.
            “tidak. Tapi bagiku Putri itu ada dan nyata” kata Pangeran sambil tangannya membelai lembut rambut Putri Asaufa.
            “selain tempat ini, aku punya tempat favorit lain Restoran Raja meja 8 aku sering kesitu” ucap Putri Asaufa.

~Ooo~

            “Edga, banggun sayang sudah pagi” suara itu menggema membuat si pemilik nama spontan melompat dari kasur king zinenya.
            Sedikit merapikan penampilannya ia langsung berlari dan membuka pintu kamarnya, sosok wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu tersenyum lembut padanya.
            “selamat pagi Ibunda” sapanya sambil memeluk Ibundanya.
            “selamat pagi juga Pangeran Edga Dhafir, apa acara kamu hari ini?”
            “hmm ananda ingin kembali ke Indonesia”
            “Apa? Kamu serius”
            “Ma 15 tahun kita telah meninggalkan Indonesia dan Edga gak pernah balik ke Indonesia jadi saat ini Edga ingin kembali kesana”
            “hmm kalau itu sudah keputusan kamu apa yang bisa Mamah lakukan, silahkan kembali ke Indonesia”
            Edga masuk kekamarnya mandi menyiapkan pakain dan barang yang kan ia bawa, juga menghubungi seseorag untuk memesankan tiket pesawat untuknya. Setelah semua keperluan beres Edga turun keruang makan dengat tas ransel yang sudah bertengker di bahunya. Mereka melakukan aktifitas makan dalam diam hanya tersengar suara sendok dan piring saat bertemu. Selesai makan anggota keluarga itu pun saling menatap.
            “Ayah dengar dari Mamah kamu akan kembali ke Indonesia?” tanyak sang kepala keluarga menatap anak mereka.
            “iya” jawab Edga singkat.
            “hmm Ayah izinkan”
            “makasih Yah”
            “di sana jaga lah dirimu baik – baik”
            “hmm”
          Setalah menempuh jarak yang lumayan Edga pun tiba di Indonesia, Edga berdiri di luar bandara sambil mengamati secercik kertas yang di berikan ibunya. Isi kertas itu adalah alamat tantenya, selesai mengamati kertas itu Edga menarik nafas lalu memanggil taxsi. Di taxsi Edga kembali mengambil kertas itu dan di tunjukan pada sopir taxsi.
            Di taxsi Edga terus memikirkan Mimpinya, hingga suara radio yang disetel oleh supir taxsi menyadarkannya dari lamunannya itu.
            “pak siapa penyiar itu?” tanyak Edga penasaran.
            “hmm dia sering menyebunya dengan Tuan Putri, anda suka?” tanyak Supir Taxsi, Edga hanya diam.
            ‘ya buat kamu yang tadi udah hubungi kita, kamu boleh saja ingin bersama si dia tapi kamu jangan sampek menyakiti hati orang tuamu. Yakinkah orang tua mu dengan cara yang baik dan jangan sampek kau menyakiti mereka dan…’
            “pak, bagaimana cara menghubunginya”
            “oh gampang tuan, ini anda bisa pakek ponsel saya, saya sering curhat pada Tuan Putri” kata supir taxsi dan menyerahkan ponselnya.
            “hallo, restoran Raja meja delapan” kata Edga dan menutup sambungan telponnya.

~Ooo~

            Putri Asaufa, terdiam saat mendengar suara penelpon misterius tadi yang tidak menyebutkan alamat bahkan namanya. Putri Asaufa meneteskan air matanya lalu ia berlari keluar dari ruang penyiaran, suasana pun sediki kacau. Acara yang dibawakan Putri Asaufa pun di tutup begitu saja.
            “kau mau kemana?” tanyak rekannya yang mengejar Asaufa.
            “mencari mimpi ku” kata Putri Asaufa dan kembali berlari.
            Dengan air mata yang bercucuran, Putri Asaufa pergi ke restoran Raja dia berdiri di Restoran itu dan mengamati Restoran yang ramai itu. Dia melangkah kan kakinya untuk masuk ka dalam Restoran, matanya terpaku saat melihat sosok yang tengah duduk di meja nomor 8.
            Merasa di perhatikan sosok pemuda itu berpaling kearah Asaufa, mata terkejut menatap siapa yang tengah memandangnya. Tanpa di perintah kaki itu melangkah mendekati Putri Asaufa, dia menarik Putri Asaufa. Mereka berpelukan lama soalah sudah tidak bertemu sangat lama, bahkan rasanya kini waktu berhenti menyaksikan mereka.
            Mereka terus melepaskan rindu, hingga pelan-pelan suasana restoran berubah, mereka seperi masuk kedimensi lain. Di mana disitu hanya ada mereka berdua yang sedang sangat bahagia. Burung-burung terasa bernyanyi gembira melihat mereka yang menyatu. Pelan-pelan pelukan erat itu mulai mengedor, mereka pun kembali ker restoran raja dan semua pelanggan kini sedang menatap mereka dengan ekspresi yang berbeda-beda.
            “kau nyata” itulah kata yang terlontar dari mulut mereka berdua. Keduanya pun tersenyum bahagia dan kembali berpelukan.

~Ooo~

            Putri Asaufa terlihat sangat cantik dengan gaun hijau lumutnya, dia menatap pantulan dirinya di cermin. Dia sangat senang hari yang ia tunggu akhrinya tiba juga, dia sempat pikir mimpinya selamanya akan menjadi mimpi.
Tok…tok..tok
            Suara ketukan pintu itu membuatnya mengalihkan pandangannya kearah pintu, dia melihat dua sosok pemuda yang masih asing baginya.
            “hay, aku Wiliam teman sekampusnya Edga, ah aku kembali ke Indonsia untuk menghadiri pernikahannya, aku gak menyangka itu” kata Wiliam sambil menjabat tangan Putri Asaufa.
            “dan aku Kim Jo Ah, kau sangat cantik tuan Putri Asaufa, kau wujud nyata dari putri impiannya Edga” kata Kim Jo Ah dengan bahasa Indonesia yang berlepotan.
            “kalian pikir Cuma kalian, aku bahkan menganggap sahabat ku ini gila, menunggu Pangeran Hayalannya, tapi kenyatanyaanya hari ini mereka akan menikah” kata Sahabat Asaufa yang ikut masuk.
            “khem, kalian kesini ingin menjemput ku atau ingin berpendapat disini”
            “hahahaha kami mau menjemputmu, ya sudah ayolah”
            Putri Asaufa diiring ke pelaminan yang serba hijau itu bahkan terkesan mereka sedang di dalam hutan. Hutan di mana mereka sering berjumpa di dalam mimpi mereka. Pengeran Edga tersenyum menyambut kedatangan Tuan Putrinya. Mereka terlihat sangat serasi keduanya cantik dan tampan, dan kedua nya benar-benar terlihat seperti Pangeran dan Putri.
            “aku sangat senang kau nyata” bisik Putri Asaufa.
            “aku juga sangat gembira bisa menikahi mu” bisik Pengeran Edga.
            “semoga kita selamanya bersama”
            “amin” keduanya pun bergendengan tanggan dan tersenym bahagia, yang menyaksikan adegan itu pun ikut gembiran.
            Walaupun jujur mereka masih menganggap penganti baru itu aneh. Sering bertemu dalam mimpi, mencari keberadaan. Sehari bertemu dan langsung memutuskan untuk menikah, acara pernikahan yang hanya disiapkan dalam waktu 2 minggu benar-benar pasangan aneh. Mungkin begitulah pandangan mereka, tapi mereka dapat merasakan cinta yang kuat diantara mereka.

The End

Kamis, 21 November 2019

Trouble - Cerpen


“-dia menanyakan padaku bagaimana dia orangnnya sekarang, apa ada yang berubah padanya. Untuk waktu 4 tahun  menjalin persahabatan, sebenarnya hanya aku yang menganggapnya sahabat, tapi dia tidak, dia menganggapku hanya sebatas teman katanya, dia menanyakan pertanyaan itu membuatku kesal-”

Kinan menutup buku diary tanpa membaca habis, di perhatikannya cover benda persegi empat tersebut yang bergambarkan princess disney dengan tersenyum. Dia melirik si empunya diary yang lagi serius dengan laptop di depannya mempublikasikan beberapa cerpen di blognya tidak menyadari apa yang telah Kinan lakukan.
“bagus gambarnya, berapa belinya?” kata Kinan manatap covernya.
“kalau mau beli, beli yang besar” sahut Pia mengambil diarynya dari tangan Kinan dan memasukkan kedalam tasnya.
“pelit bangat, lihat gambarnya aja gak boleh” kata Kinan merajuk.
“pi?” panggil Kinan menyandarkan dagunya di bahunnya Pia.
“hm”
“pernah nonton film malaysia, Pen Merah Pen Biru?”
“ya, kenapa?”
“di situ kan tertukar diary, bagaimana kalau kita menukar diary? Aku baca punya kamu, kamunya baca punya aku”
“gak”
“ya boleh lah?” rayu Kinan yang tidak terlalu di tanggapi sama Pia yang serius dengan kegiatannya.

Kinan menyerah membujuk Pia, dia menoleh ke samping kirinya kearah Mega yang juga serius dengan laptop di depannya yang juga memamfaatkan wifi duduk di kantin seperti halnya Pia. Karena di cuekin sama dua temannya, Kinan memilih memainkan ponselnya, mendengar lagu menggunakan headsetnya. Bibirnya bergerak mengikuti lirik lagu yang didengarnya.

Kaulah yang selalu
Selalu menemaniku
Mendengar kisah
Pahit manis hidupku

Kaulah yang disitu
Setia menungguku
Kaulah yang selalu
Menjadi sahabatku

-Najwa Latif-Sahabat-

Kinan melirik arlogi yang terpasang di tangan kananya yang menunjukkan pukul 18:12 saat dia sampai di depan rumahnya. Setelah memarkirkan motornya, dia berjalan memasuki rumah dan menuju ke kamarnya. Dia merebahkan badannya dan tersenyum membayangkan kejadian di kantin tadi.

Kinan meraih buku yang terletak manis di meja belajarnya diantara beberapa buku-buku lain dan di susul dengan pena berwarna merah yang berdekatan dengan buku tadi.

Hi diary
Aku tidak sengaja membacanya
Aku membukanya dan halaman itu yang terbuka
Dia menulis tentang aku yang menganggapnya
Hanya sebatas teman saat dia menganggapku lebih
Aku sahabat baginya

Jujur...
Egoku terlalu tinggi untuk mengatakan “kamu sahabatku”
Walaupun aku tau itu tidak aneh, tetap saja aku tidak bisa
Mangatakan atau mengakuinya padanya.
Itu sama sulitnya dengan mengatakan “aku menyukaimu”
Pada orang yang benar-benar ku suka.

Tapi asal kamu tau  Piana zahira!!!
Kamu sahabat bagiku, bukan teman seperti yang kamu pikirkan.
Aku bukan tipe cewek yang dengan mudah mengatakan hal demikian.
apalagi aku punya kejadian yang membuatku sensitive dengan kata sahabat.

Kinan menutup diarynya setelah menuliskan tentang hal yang dianggap penting hari ini. Dia beranjak dari tidurannya, mengambil handuk dan menuju kamar mandi.
“apa ada seorang teman yang ikut tertawa saat kita bahagia? 
menangis saat kita sedih? 
Selalu berusaha ada saat kita membutuhkannya? 
Setia menunggu walaupun lama? 
Diam saat kita memintannya diam? 
Mengerti kita tanpa harus kita katakan? 
Tetap peduli meskipun dia mengatakan dia marah pada kita? 
Mau mengalah meskipun itu berat? 
Mengingati tanpa membuat kita tersakiti? 
Tidak, tidak ada. Itu bukan teman namanya, tapi sahabat. 
Dia tidak perlu mengatakan, menandai atau mempromosikan  kalau kamu sahabatnya. 
kamu hanya perlu melihat dan memahaminya.
dia menunjukan ciri seorang teman atau sahabat. 
Tidak semua orang bisa mengatakannya. 
walau hanya sekedar “hn, kamu sahabat”.



The and

Biarkan Jatuh Cinta - Cerpen


Mata ini indah melihatmu
Rasa ini rasakan cintamu
Jiwa ini getarkan jiwamu
Jantung ini detakkan jantungmu

Dan biarkan kupadamu
Menyimpan sejuta hara-

Kegiatan itu terhenti begitu saja saat sebelumnya masih terdengar suara petikan gitar dan nyanyian dari seorang cowok yang lagi bersantai di taman samping rumahnya. Matanya terus mengikuti makhluk mungil yang berjalan masuk ke rumahnya hingga makhluk tersebut pergi dari rumahnya dan menghilang dari pandangannya di pagar tembok rumahnya.

Saat itulah kesadarannya kembali. Dia beranjak menghampiri kakaknya yang masih berdiri dipintu mengantar makhluk mungil tadi yang merupakan temanya.
“eh, kak. Kak?”
“ada apa?”
“tadi itu kawan lo ya?”
“gak mungkin kesinikan kalau bukan teman gue?”
“yah, siapa tau aja kan orang nanya alamat” memberi alasan.
“emangnya ada ya, orang nanya alamat pakek ketuk pintu rumah orang asing?”
“mungkin” menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“napa lo nanya teman gue?”
“ah, gak papa, cuma gue gak pernah lihat aja dia kesini, siapa namanya?”
“Azura, mana mungkin lo lihat, diakan teman gue saat masuk universitas” jawab kakaknya tanpa curiga.
“hm” mengangguk-angguk mengerti.
“tumben lo nanyain teman gue?” mulai curiga.
“gak boleh? Ya udah” berlari ketempatnya semula menghindari kecurigaan kakaknya.

“Azura” guammnya membayangkan sosok mungil tadi yang telah mengganggu pikirnya dengan memeluk gitar kesayangannya.
“Rakaaaaa”

Hancur sudah hayalannya saat suara cempreng kakaknya memanggilnya.
“dasar penyihir bawel, mengganggu bangat” kata Raka mengerang.

~~~

Seperti biasa, Raka bersantai dengan gitarnya di taman samping rumah. Hari ini dia memilih tetap dirumah. Biasanya hanya bernyanyi sebentar sepulang sekolah dan keluar nongkrong bersama teman-temannya.
“why a why tell why not me” lirik lagu enrique mengalun indah di bibinya Raka yang di iringi petikan gitar kesayangannya. Tidak hanya itu, lagu campur aduk semua yang terlintas di dipikirannya dicobanya.

Karena merasa bosan, Raka berhenti dari kegiatannya. Diliriknya jam sudah menunjukkan pukul 04.25. Raka beranjak dari tempatnya dan masuk kedalam. Di dalam Raka berpapasan dengan kakaknya dan Azura.

Waktu seakan berhenti di sekitar Raka saat pandangannya bertemu dengan Azura, makhluk mungil yang membuatnya merusak lagunya orang alias nyanyi suka-sukanya Raka.
“woi” kakaknya Linzi menjalankan kembali waktu yang sempat berhenti disekitarnya.
“eh”
“Zura? Kenalin ini adek gue yang gue bilang tadi, Raka”
“oh, kamu orangnya?”

Raka hanya mengangguk tanpa mengalihkan tatapannya dari Azura. Linzi yang melihatnya di buat geram hingga Linzi menyudahi perkenalan yang di sesalinya yang sudah dilakukannya, karena adiknya membuatnya malu akibat ulahnya yang gak sopan itu. Sebelum berbalik dari hadapan Raka, Azura sempat melemparkan senyum untuk Raka. Tanpa Azura sadari itu memberi efek lebih bagi Raka. Dunianya seakan berputar-putar hingga membuat jantungnya harus lari maraton.

Diperhatikannya tubuh mungil Azura yang menuju pintu. Tingginya hanya sedadanya Raka, dengan wajahnya yang imut Azura lebih cocok disebut anak sekolahan daripada kuliahan, pikir Raka.
“dia lebih cantik dari dekat”

Setelah mengantar Azura pulang, Linzi kembali dan meneriaki nama Raka yang berbarengan dengan namanya juga ikut menggelegar diruang tengah.
“Rakaaaaa/kak Linziiiii” Raka menghampiri kakaknya yang bengong kenapa Raka juga meneriaki namanya.
“ada apa lo teriak-teriak manggil gue?”
“kakak sendiri juga teriak manggil gue”
“itu karena lo udah bikin gue malu, siapa suruh lo natap teman gue lama-lama”
“mau gimana lagi, gue udah terlanjur jatuh cinta sama teman kakak yang imut itu” kata Raka merebahkan badannya disofa.
“a-apa? Lo bilang apa?” mendekati Raka.
“pendengaran kakak masih baguskan?”
“lo jatuh cinta sama Azura?”
“bolehkan” menganggakat alisnya.
“gak”
“kenapa gak?” duduk.
“karena lo tanya sama gue”
“oh begonya gue” memukul jidatnya.
“walaupun lo minta sama Azura sendiri, gak bakalan gue izinin lo suka sama teman gue”
“gue heran ya sama kakak-“ menghentikan kata-katanya dan menatap kakaknya.
“kenapa?”
“yaiyalah, seharusnya lo dukung adek lo lagi jatuh cinta, waktu gue cuek sama cewek lo bilang gak normal, giliran gue suka lonya gak ngebolehin”
“mana mungkin gue ngebolehin, lo sama Azura beda jauh”
“eh kak cinta itu gak manang usia” seakan menyandarkan kakaknya akan kenyataan itu dan melangkah kekamarnya.
“beda usia, dia pikir Bass sama si Sa yang ada dalam drama apa?” kata Linzi.

Dikamar Raka merebahkan badannya dan memejamkan matanya. Dia memikirkan kembali kata-katanya barusan.
‘cinta memang gak mandang usia, dan itu gak masalah bagi gue harus menyukai kak Azura yang dua tahun yang lebih tua dari gue. Tapi, masalahnya apa kak Azura akan menyukai gue yang masih kelas dua sma’ batinya berdialog dalam pejaman matanya.
“ah bodo amat, apa salahnya mencoba sih Raka” kata Raka akhirnya.

~~~

Tiga hari sudah berlalu dari perkanalan dengan Azura. Hari ini minggu, dan ini minggu yang membosankan selama dia masuk SMA. Raka hanya berjalan-jalan di dunia maya, hingga ide untuk mencari Azura terlintas. Di tulisnya nama Linzi FarLinzi di akun fbnya, kemudian mengetik nama Azura di daftar teman kakaknya.

Tidak lama nama Azura Fhonna muncul, dengan PP memperlihatkan wajah makhluk mungil yang akhir-akhir ini memasuki dunianya. Melihat itu membuat Raka melebarkan senyumnya.

Tanpa menunggu lama dikliknya tambah teman. Mungkin waktu sedang berpihak pada Raka, beberapa menit kemudian permintaannya di terima.
“hi kak” imboxnya.
“hi, adiknya Linzi ya?”
“iya kak” balasnya setelah sempat berteriak karena Azura langsung mengenalnya.

Obrolan mereka terus berlanjut, terkadang membuat Raka berteriak atau menari gak jelas. Semua itu terhenti sejenak saat suara mamanya terdengar di depan pintu kamarnya yang sudah memanggilnya beberapa kali.
“ya ma?” sahutnya membuka pintu kamarnya dengan cengirannya.
“ayo. makan” kata mamanya ragu saat melihat anaknya ini.
“ok” kembali menutup pintu kamarnya.

Tidak lama Raka keluar dengan senyuman masih menghiasi wajahnya. Kelakuan anehnya hari ini membuat mamanya dan kakaknya heran.
“lo gak sakit kan ka?” tanya Linzi memegang kening adeknya yang duduk di sampingnya.
“ya kagaklah” menepis tangan kakaknya.
“siapa tau aja kan” melanjutkan makannya yang sempat terhenti dengan kelakuan aneh Raka.
“jadi jagoan mama kenapa hari ini terlihat sangat bahagia?” tanya mamanya yang juga penasaran.
“hm, gak ada papa kok ma”
“aku tau ma” kata Linzin dengan tetap fokus pada makanan di piringnya.

Mendengar penuturan Linzi membuat mamanya mengalihkan pandangannya kearah Linzi. Begitu halnya Raka yang juga penasaran apa yang akan dikatakan kakaknya ini.
”kenapa?”
“mama kenal teman aku yang sering datang kesinikan?” tanya Linzi memajukan badannya kearah mamanya yang duduk berhadapan dengan nada berbisik.
“kak Linzi” kata Raka dengan nada geram.
“hm, Azura?”
“tepat. Mama tau kalau Raka ja-” kata-kata Linzi terhenti saat Raka langsung membekap mulut kakaknya untuk menghentikan kata-katanya.
“ih, apa-apaan sih lo?” Linzi memindahkan tangan Raka di mulutnya.
“kakak yang apaan” balas Raka kesal.

Melihat pertengkaran kecil anak-anaknya ini yang sudah sering terjadi hampir setiap hari membuat memanya tersenyum. Sebenarnya bukan pertenkarannya yang membuatnya tersenyum, tapi karena mamanya tau lanjutan perkataan Linzi tadi.
“Raka/Linzi, makan dulu nanti kalian lanjut lagi berantemnya” lerai mamanya yang tau pertengkaran mereka akan terus berlanjut.

Ruang tengah yang sepi, hanya obrolan mbak-mbak penyiar dan suara gitar yang menemani Raka bernyanyi. Mamanya sibuk dengan bunga-bunganya di taman samping rumah, sedangkan kakaknya lebih memilih di kamarnya dari pada nonton di iringi suaranya Raka. Dalam keseriusannya Raka menyanyikan lagu, tiba-tiba kakaknya datang menghentikan kegiatan konserya.
“lo ada acara kemana hari ini”
“gak ada, kenapa?” jawabnya setelah sekilas melihat wajah Linzi.
“temanin gue ke jalan yok”
“apa?”
“ya, ayok cepat?” perintah Linzi bossy.
“gak, gak mau gue. pergi aja sendiri.”
“pokoknya lo harus mau”

Raka menghentikan petikan gitarnya dan menatap Linzi.
“kakakku yang cantik, kenapa kakak gak ngajak pacar kakak aja untuk nemani kakak jalan-jalan? Bukankah lebih romantis jalan sama pacar sendiri daripada sama adik?”
“yaudah kalau gak mau, kan gue pengennya jalan sama lo” kata Linzi memelas dan berbalik ingin pergi.
“ok, tunggu disini sebentar” kata Raka akhirnya karena gak bisa menolak jika melihat wajah memelas kakaknya orang yang menyebalkan sekaligus orang yang paling disayangnya.

“kak, lo mau kemana sih?” tanya Raka fokus menyetir.
“jalan-jalan”
“ya, gue tau jalan-jalan, ya kemana?”
“ketaman kota, lagi ada pameran”
“apa? Ta-taman kota?” Raka shok karena taman kota bisa di bilang gak jauh dari rumahnya kenapa harus mengajaknya. Ok Raka, kembali ketopik awal, Linzi pengen jalan-jalan sama kamu.

Sampai di tempat yang dimaksud, Linzi masih berdiri di tempat parkiran meski sudah tau Raka sudah memarkirkan mobilnya.
“nunggu apalagi lo kak? ayo masuk”
“sebentar”
“lo nunggu siapa sih kak?” tanya Raka heran melihat Linzi seperti mencari seseorang.
“hah itu” Linzi menunjuk.

Kembali Raka dibuat shok sekaligus geram sama Linzi saat melihat orang yang di maksud. Bagaiman tidak, saat seorang pria yang sudah sangat familiar bagi Raka datang menghampiri dan menyapa mereka yang notabenenya adalah pacar kakaknya.
“hi” sapa Bobby.
“hi sayang”
‘gue kan pengen jalan-jalan sama lo, apa ini yag di namakan “jalan-jalan sama lo”. Kalau saja gue punya kakak lain, mungkin udah gue pastiin jadi soup makan malam’ batinnya ngedumel geram dengan mengusap keningnya hingga tidak mendengar kata-kata Linzi sebelum meninggalkan Raka.
“oh, bagus, pergi saja. Tadi lo ngajak gue sekarang lo ninggalin gue. Kenapa gak bilang aja ‘anterin gue mau jalan-jalan sama Bobby, pasti udah gue tolak seminggu yang lalu. Gak papa” kata Raka pada Linzi yang sudah menghilang dari pandangannya hingga seseorang menepuk pelan bahunya. Raka berbalik untuk melihat siapa dan seketika tubuhnya membeku dan jantungnya berdegup dua kali lipat saat pandangannya bertemu dengan orang yang membuat dunianya berputar.
“A-Azura” kata Raka tercekat seakan penglihatannya salah.
“apa aku seperti hantu?”
“ti-tidak, maaf. Tapi kakak tiba-tiba datang, membuatku sedikit kaget”
“tiba-tiba apanya, kan Linzi udah bilang tadi”
“oh” menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena tidak mendengar apa yang dikatakan Linzi.
“ayo” ajak Azura.

Mereka memasuki area pameran. Raka dan Azura keliling hanya melihat-lihat saja dengan kecanggungan masih menguasai mereka hingga Azura melihat pedagang yang menjual berbagai macam asesoris. Dengan cepat di tariknya tangan Raka menuju tempat asesoris dengan senyum lebar. Azura memilih-milih jenis gelang dan mencoba satu persatu yang menurutnya menarik. Tiap yang di coba semua menanyakan pendapat Raka. Tanpa Raka sadari kecanggungan menghilang sendiri dan lebih rileks disamping Azura.

Tidak hanya melihat saja, mereka juga mencoba berbagai wahana permain hingga pada acara makan bakso karena sudah merasa lapar dan kelelahan. Saat sedang makan Linzi dan Bobby masuk dan menghampiri Raka. Mereka ikut makan bersama Raka dan Azura.

Raka memperhatikan wajah imut Azura yang tengah makan dan tersenyum kecil tanpa Azura sadari. Hari yang membahagiakan bagi Raka dan hari dimulainya kedekatannya dengan Azura.
‘terima kasih kak Linzi’ batin Raka.

~~~

Hancur sudah kebahagian yang di bina Raka selama satu bulan ini saat melihat status berpacaran yang di update di media sosialnya Azura. Kenangan yang pernah dilaluinya dengan Azura berputar kembali di kepalanya hingga membuatnya merasa pusing. Hatinya sakit seakan di tikam beribu pisau, orang yang yang membuatnya merasakan bagaimana bahagianya jatuh cinta disaat dia gak peduli akan cinta dan juga sekaligus mengenalkannya apa itu patah hati.

Seminggu sudah berlalu, kesedihan efek patah hati masih terlihat jelas di wajah Raka. Selama itu juga Raka berusaha menghindar setiap Azura kerumahnya. Bukan Raka bangat jika harus mengurung diri dikamar jika ada masalah.
“Raka” teriak Linzi di depan kamar Raka yang diiringi gedoran pintu. Tapi pintu itu masih sama beberapa menit yang lalu, tertutup rapat tanpa ada niat penghuni di dalam untuk membukanya.
“Raka, buka pintunya” panggil Linzi untuk kesekian kalinya dan sekarang diiringi dengan pintu yang terbuka.
“ada apa sih kak teriak-teriak”
“kalau lo langsung membukanya, belom gila juga gue untuk teriak-teriak”
‘yah, secara gak langsung lo bilang udah gila kan’ batin Raka memutar bola matanya mendengar kata-kata Linzi.
“jadi ada apa kakak manggil aku”
“sarapan”
“nanti aja”
“eit, gak bisa, gak akan gue dengar lagi lo bilang nanti” kata Linzi menolak karena udah sering di dengarnya selama seminggu ini kata ‘nanti’, tapi nyatanya Raka melupakan jam makannya.
“kakakku yang cantik, aku gak lapar, bisakah kakak keluar?” pinta Raka membalikkan badan Linzi keluar dari kamarnya dan menutup kembali pintu kamar.
“kakak, aku? Kesambet setan apaan tuh anak dikamarnya manggil sopan begitu? “ kata Linzi heran dan turun ke ruang makan.

“Linzi, Raka mana?” tanya mamanya.
“di kamar”
“kenapa gak ikut sarapan”
“gak lapar katanya ma” menarik kursinya dan memakan roti yang udah di siapkan mamanya.
“Linzi?” panggil papanya.
“ya pa?”
“adik kamu itu kenapa? Seminggu ini papa lihat dia murung aja” khawatir.
“Linzi juga gak tau pa, tiap Linzi tanya katanya selalu gak ada apapa, pada hal banyak apanya” jelas Linzi.
“pa, ma, aku berangkat dulu ya? Azura udah daatang tuh” pamit Linzi kekampus saat mendengar suara motor dari luar rumahnya.
“ya hati-hati” kata mamanya.

Linzi dan Azura berangkat meninggalkan rumah Linzi dan menghilang di balik tembok rumahnya yang tinggi itu. Dari arah lain tepatnya dari arah jendela kamar Raka. Raka memperhatikan kepergian Azura dengan pandangan terluka.

Dikantin kampus, Linzi dan Azura duduk makan setelah mata kuliah usai.
“ra, lo beneran gak bisa nemanin gue?” tanya Linzi.
“hm, bener” jawab Azura mulai melogin media sosialnya yang sudah seminggu gak sempat dibukanya.
“bisa gue titip punya mama sama lo gak?”

Azura tidak menjawab, bahkan mungkin tidak mendengar apa yang di tanyakan Linzi padanya, Linzi mengoyangkan tubuh Azura hingga Azura kembali kealam sadarnya dari keterpakuannya di depan gadgetnya.
“Azura? Kenapa?”
“gak, gak papa kok, oya lo bilang apa tadi?”
“mau kasih pesanan mama bentar? soalnya gue gak bisa pulang dulu”
“hm, ya” mengangguk dan kembali pandangannya kelayar gatgetnya memperlihatkan sebuah pesan dari Raka firdaus.

Azura sampai dirumahnya Linzi. Suara petikan gitar menyambut kedatangannya. Langkahnnya terhenti dan merasa sakit di dadanya saat mendengar suara nada yang berasal tepatnya dari taman samping rumahnya Linzi itu.

Mata ini indah melihatmu
Rasa ini rasakan cintamu

Suara Raka yang terdengar di telinga Azura tanpa di sadarinya menuntun kakinya menuju kearah suara.

Jiwa ini getarkan jiwamu
Jantung ini detakkan jantungmu

Lintasan kejadian dengan Raka berputar di kepalanya. Saat jalan dengan Raka,saat Raka menghindarinya dan saat membaca pesan dari Raka di kampus tadi, ‘selamat ya kak Azura-‘.

Dan biarkan kupadamu
Menyimpan sejuta harapan aku padamu
Rasa ini tlus padamu
Takkan berhenti sampai nanti ku mati

Semua pertanyaaan Azura tentang Raka selama seminggu ini akhirnya mendapat jawaban.

Biarkan aku jatuh cinta
Pesonaku pada pandangan saat kita jumpa
Biarkan au kan memcoba
Tak pedui kau berkata tuk mau atau tidak

Tanpa Azura sadari sekarang dia sudah berada di hadapan Raka. Menatap mata Raka yang jelas memperlihatkan kekecewaan. Raka membalas menatap Azura tepat di maniknya tanpa menghentikan nyanyiannya.

Mata ini indah melihatmu
Rasa ini rasakan cintamu
Jiwa ini getarkan jiwamu
Jantung ini detakkan jantungmu

Biarkan aku jatuh cinta
Pesonaku pada pandangan saat kita jumpa
Biarkan au kan memcoba
Tak pedui kau berkata tuk mau atau tidak.

Azura mendekat dan duduk dihadapan Raka saat Raka menyelesaikan nyanyiannya. Tidak sedikitpun pandangan Raka di alihan kearah lain seakan Azura akan hilang jika mengalihkan pandangannya sesaat saja.
“kak-” Raka menghentikan kata-katnya karena sangat berat untuk bersuara.
“aku tau kakak sudah punya pacar, tapi biarkan aku jatuh cinta sama kakak” lanjut Raka berat dengan air matanya  mengalir dipipinya yang sudahberusaha ditahan saat menatap wajah makhluk mungil yang di cintainya.

Azura menatap lekat wajah adik kawannya ini. Perlahan menyapu poni Raka, mengusap air mata Raka dan memegang kedua pipi Raka dengan kedua tangan mungilnya. Azura tidak tau harus mengatakan apa, rasa bersalah menyelimutinya. Mereka hanya bertatapan dalam diam hingga Azura mampu menemukan kata-katanya kembali.
“terima kasih sudah mencintaiku” kata Azura.

Raka diam menanti apa yang dikatakan Azura, yang mungkin kata-kata yang tidak ingin di dengarnya dengan masih tetap menatap wajah Azura.
“ aku gak tau apa makna perasaanku untuk kamu, aku gugup di dekat kamu, malu untuk membalas tatapanmu, bahagia jalan denganmu, begitu nyaman melihat kamu tersenyum dan  sangat sakit di sini (memegang dada Raka) saat kamu menghindari aku”
“kak-” potong Raka senang mendengar pengakuan Azura yang mungkin sama dengan yang dirasakannya, tapi kembali terpotong oleh Azura.
“satu lagi, aku tidak punya pacar?”
“tapi, di fb”
“itu kerjaan linzi”
“kak linzi?”
“kamu tau apa yang kakak kamu katakan?”

Raka menggeleng gak tau sekaligus memprediksi negative tentang kakaknya itu.
“’gak akan gue biarkan siapapun merebut lo dari adik kesayangan gue’ dan memposting status berpacaran di kronologiku” kata Azura pelan.
“jadi ka-kamu gak pacaran?” Raka terbata bahagia berbanding terbalik dengan perasaan sebelumnya.
“tidak” menggeleng tersenyum yang langsung di sambut dengan pelukan dari Raka.
“terima kasih Azura”

“oh jadi jagoan mama seminggu ini murung patah hati toh” kata mama Raka membuat Raka dan Azura kaget yang lagi berpelukan. Raka melihat mama dan kakaknya berdiri memperhatikan mereka berdua dengan Linzi tersenyum evilnya kearah Raka yang masih terlihat jelas senyum kebahagian dari matanya.
“mama, kak Linzi”
“hei adik ipar” kata Linzi memeluk Azura.
“thanks” bisik Linzi pada Azura.


The and

Kamis, 02 November 2017

Cerpen _ Terlambat


Seorang gadis berlari menghindar dari kejaran seseorang di belakangnya di koridor kampusnya.
“Ulfa berhenti?” perintahnya, tapi tidak di gubris sama gadis ini yang terus berlari.

Karena kelelahan, dia berhenti sejenak dan berjongkok mengatur nafasnya. Ulfa kembali menegakkan tubuhnya, tapi dia terpaku pada sosok di depannya.
“kak. David” gumamnya. Dan dilanjutkan kekagetannya dengan panggilan seseorang di belakangnya.
“Ulfa?”

Ulfa berbalik dan melihat Reza yang datang menyusulnya.
“kakak kenapa masih mengejarku sih? aku kan sudah bilang, aku udah punya pacar, dan juga aku sudah bilang untuk cari cewek cantik dari aku. Lah ini? Kakak masih aja ngejar cewek gak jelas kayak aku. Aku heran ya, sama kakak, siapa sih yang meletin kakak sampai kak Reza kek gitu, aku rasa yang melakukannya orang buta, apa gak bisa melihat mana yang cantik mana yang enggak sih?” tanya Ulfa pada Reza yang malanjutkan ngerutu pada dirinya.
“aku gak bisa?’ jawab Reza.
“hah, kenapa? Karena aku gak nunjukin pacar aku sama kak Reza gitu?”
“ya” di sertai anggukan.
“yakin ingin mengenal pacarku?”
“ya”
       
Tanpa mengalihkan pandangannya dari Reza, Ulfa menarik tangan David, sosok yang berdiri di belakang Ulfa memperhatikan perdebatan kedua makhluk di depannya. David yang di tarik tiba-tiba menjadi kaget karena dia yang semula menjadi penonton berubah jadi aktor.
“nah ini pacarku , kak David, kenalkan? Gak mungkin gak kenal, orang kalian seangkatankan? dia juga ketua BEM kan?”

Yang ditanya hanya diam melihat ke arah David, seakan menuntut penjelasan dari David.
“ah, iya, jadi kamu orangnya, yang kata pacarku sering mengejarnya?” tanya David merangkul bahu Ulfa, hingga membuatnya menegang.
“maaf telah mengganggu pacarmu, aku tidak akan pernah menemuinya lagi” kecewa.
“tidak masalah jika berteman, aku tidak melarangnya untuk menambah teman, asalkan tidak membuatnya risih, ya kan sayang” tanya pada Ulfa.
“i-iya”
“hm, ya, terima kasih, aku permisi” ucap Reza melangkah pergi.

Setelah kepergian Reza, Ulfa baru bisa menarik nafas lega.
“hm, kak David, makasih bangat udah mau bantu aku tadi, permisi kak” berbalik untuk pergi, tapi tidak jadi dan kembali menghadap David.
“satu lagi kak, akting kakak sangat bagus, sekali lagi makasih ya kak?” melangkah pergi.
“siapa nama kamu?”tanya David yang membuat Ulfa kembali menghadapnya.
“untuk apa namaku?”
“kenapa? Apa aku gak boleh mengenalmu?”
“hari ini kita bertemu tidak sengaja, mungkin besok kita udah saling tidak mengenal lagi jika bertemu, jadi namaku gak penting” terseyum dan berbalik pergi.
“jangan datang dan pergi sesuka hatimu, itu tidak baik” ucap David yang membuat langkah Ulfa terhenti.
~Ooo~

Tutttttt......tutttttt...tutttttt....

Ulfa meraih ponselnya yang ada di atas nakas, dengan mata masih terpejam.
“hallo, siapa ya” tanyanya yang tidak melihat siapa yang menelpon.
“siapa-siapa? kamu masih tidur?” tanya seseorang di seberang sana dengan nada tinggi.
“hah?” terduduk dengan mata terbuka lebar melihat siapa yang menelpon.
“hehe, ada apa kak?” tanya Ulfa polos.
“ada apa kamu tanya? Kamu mau masuk kuliah jam berapa hah?”
“hah kak, gak usah pakek teriak-teriak kan bisa, lagian kan baru jam 09.00” melihat jam weker di nakasnya.
“ya jam 9, trus kamu ngebut di jalankan, ngejar waktu?” sindir di seberang sana.
“aku tunggu sebelum 30 menit terakhir pukul 9.00, kamu sudah ada di kampus” tambahnya.
“ya,ya baik daddy” memutuskan sambungan.

Ulfa menatap layar ponselnya yang sejenak menampilkan nama” My David”, si ketua BEM yang terkenal menghormati waktu ini sudah tiga bulan mengisi hari-harinya. Ulfa tersenyum mengingat perkenalan pertama mereka dulu.
“jangan datang dan pergi sesuka hatimu, itu tidak baik” ucap David yang membuat langkah Ulfa terhenti.

Flash back

Dengan melipat tangannya, berhadapan dengan David, Ulfa berkata.
“aku rasa tadi kita tidak sengaja bertemu”
“hm, apa pengakuan aku pacarmu juga tidak disengaja?” sindir David.
“kalau itu terpaksa”
“berarti kau harus membayar akibat keterpaksaan itu”
“apa yang harus ku lakukan?”
“siapa namamu?”
“Ulfa, selesai kan?” jengkel.
“No. kamu”
“hah?” bengong.
“telingamu gak bermasalahkan?”
“heh kak, aku harap kak David tidak terkenal pelet juga, kak David lihat aku, udah item manis lagi, terus pendek , mungil lagi, kak David serius ingin No ku?” cerocos Ulfa gak jelas yang membuat David tersenyum kecil.
“ya”
“hah, ya? Kurasa mata kakak harus benar-benar mendapat perawatan deh” saran Ulfa seraya mengambil ponsel di tangan David dan memasukkan No nya.
“itu No ku” mengembalikannya.

Ulfa tak sengaja melihat jam tangannya David. Tanpa diperintah ditariknya tangan David untuk melihat sudah jam berapa.
“hey”
“mampus gue” memukul jidatnya pelan, tanpa pamitan Ulfa langsung meluncur ruangan MK sekarang.

Flash on

Di kampus, di depan ruangan Ulfa, David mondar mandir menunggu Ulfa yang tak datang. Padahal waktu sudah satu jam lewat. Pak Bima juga akan masuk sepuluh menit lagi. Saat David mencoba menghubunginya tapi tak ada jawaban dari Ulfa.
“hei david, lo pergi ke acara pameran seni kan?” tanya seorang temannya.
“oh, ya tentu” jawab David normal menyembunyikan kekhawatirannya.

Setelah beberapa kali menghubungi Ulfa tapi tidak diangkat, akhirnya Ulfa balas menelvon.
“halo, kamu dimana? Kenapa gak di angkat aku telvon?” tanya David dengan notasi marah, tapi omelannya terhenti saat mendengar sahutan dari seberang sana bukan Ulfa.
“maaf, ini siapa?”
“...”
“apa? Kecelakaan?”
“...”
“dimana?”
“...”
“baik saya akan segera kesana” menutup sambungan dan berlari ke parkiran.

Dua puluh menit, David sudah sampai di rumah sakit. David langsung berlari ke ruang ICU tempat Ulfa berada setelah menanyakan pada suster di situ. Sampai di ruang ICU, langkah David melambat melihat tubuh mungil Ulfa yang di pasangkan alat-alat penunjang kehidupan. Suara monitor  yang menyakitkan bagi David saat mendengarnya, di tambah saat melihat wajah pucat Ulfa yang tak sadarkan diri.

“hai” sapa David berat, tapi tidak ada jawaban dari Ulfa. David terus menatap wajah Ulfa, wajah yang biasanya selalu ceria, wajah yang membuatnya tenang, tapi sekarang diam tak berkata. Ulfa perlahan membuka matanya, melihat sosok David di sampingnya membuatnya tersenyum kecil.
“kak.Uavid?” panggilnya lirih.
“ulfa, kamu udah sadar?”
“kak?”
“ya, kamu ingin apa? Aku pangil doktor dulu”
“tidak kak, aku, minta maaf kak?”
“udah jangan pikirkan itu-“
“aku, sayang, kak David” ucap Ulfa kembali memejamkan matanya.

Hancur sudah pertahanan David, air matanya mengalir begitu saja saat mendengar kata-kata lirih Ulfa. Perlahan di kecupnya kening Ulfa, kecupan yang lama hingga membuat Ulfa tersenyum kecil. Tidak lama keluarga Ulfapun datang, di perhatikannya satu persatu wajah keluarganya dan yang terakhir David orang yang baru beberapa bulan mengisi hidupnya. Perlahan mata Ulfa kembali tertutup yang diiringi suara nyaring dari monitor yang menunjukkan garis lurus.
~Ooo~

David menatap kotak kecil persegi empat yang berisi sebuah cincin. Cincin yang akan di gunakannya untuk melamarnya di acara pembukaan pameran seni yang diadakan oleh universitas mereka.

Perlahan David melangkah ke tempat pemakaman yang sudah dhadiri oleh banyak orang dan juga kawan Ulfa sendiri. Dengan air mata yang mengalir, dan tatapan lurus pada orang-orang di depannya, memorinya kembali berputar pada pertemuan pertama dengan Ulfa.

Ulfa tak sengaja melihat jam tangannya David. Tanpa di perintah di tariknya tangan David untuk melihat sudah jam berapa.
“hey”
“mampus gue” memegang dahinya, tanpa pamitan Ulfa langsung meluncur ruangan MK sekarang.

Saat Ulfa mengerjainya yang katanya baru bangun tidur.
“Ulfa kamu dimana?” tanya David marah.
“ha siapa?” ala orang tidur.
“kamu masih tidur”
“kak David? Oh tidak kak, aku sudah bangun”
“aku tunggu tiga puluh menit sudah ada di kampus” mematikan telvon tanpa menunggu balasan.

Baru beberapa menit mematikan telvon, seseorang datang dari belakangnya dan memberi kode pada teman-teman David untuk diam dan menutup mata David.
“hayo siapa?”
“Ulfa?” menggeram kesal karena dikerjai dengan menarik tangan IUlfa yang menutup matanya.
Ulfa memasang wajah cemberut dan langsung meninggalkan David untuk bergabung dengan teman David. Tanpa ulfa sadari David tersenyum dengan tingkah Ulfa.

Dan saat Ulfa berjanji akan datang ke acara pameran seni.
“Ulfa?”
“hm?”
“besok kamu datang kan ke acara pamerannya?”
“tentu, buat kak David apa yang enggak sih”
“lebay kamu ini”  ucap David mendengar tawaan kawannya karena kata-kata Ulfa.

David sampai di depan makamnya Ulfa. Air matanya kembali meluruh melihat batu nisan yang bertuliskan nama Ulfa Alviena.
kenapa? Kenapa saat aku ingin melakukannya, kamu pergi? Aku ingin kita selalu bersama” batin David memilukan.

David terus menatap batu nisan ulfa, sampai satu persatu langkah pergi meninggalkan pemakaman. Dihapusnya air mata di pipinya, David berlutut di samping Ulfa dan berkata.
“terima kasih, Ulfa”
“a-aku, mencintaimu” menahan tangisannya. Kemudian David berdiri dan melangkah meninggalkan pemakaman dangan hatinya yang hancur.


The and


 

Nona Alviena Published @ 2014 by Ipietoon